“Australia has finished with the discourse about state and religion”. demikian disampaikan kepala sekolah King Khalid Abdul Karim Galea, ketika kami berkunjung kesana. King Khalid yang sekarang berganti nama menjadi Australian International Academy adalah sekoah untuk komunitas muslim Australia. siswa disekolah ini datang dari sejumlah negara di Timur Tengah: Libanon, Mesir, Arab Saudi dll.
jawaban diatas agak mengejutkan, mengingat mereka datang dari negara mayoritas muslim. biasana dinegara asal mereka, isu Islamic state, cukup kuat. tapi tidak bagi para imigran yang datang ke Australia.
hari pertama, kami bertemu Bahar Huli, dia adalah pemain sepakbola Australia (Essendon Football Club). dia seorang muslim dari Lebanon. dari penuturannya, dia sangat bangga menjadi pemain football, pasalnya, bagi orang Autralia, terutama di Melbourne, football is like religion. semua orang membicarakan Australian football. nah, Bahar Huli itu menjadi satu-satunya atlet football yang beragama Islam. hal itu memberi citra positif pada eksistensi Islam dimata orang Autralia.
kedua, kami bertemu Sam Almaghribi, Kate Grealy, Peter Kowal, mereka adalah muslim yang menjadi Australian Federal Police. nah, Sam dan Kate menjadi representasi komunitas muslim di kepolisian. hal ini juga memberikan citra positif bagi komunitas muslim di Australia.
so, how to be a muslim in Australia? jawabannya adalah mereka itu. mereka menunjukan citra islam, nilai dan prinsip Islam dalam kehidupan sehari-hari, dengan menjadi atlet, polisi dan lain-lain. penilaian masyarakat diberikan pada kontribusi mereka dalam kehidupan masyarakat. jadi warga muslim Australia, memilih menjadi komunitas muslim (muslim community) dibanding menjadi Islamic state, yang belum tentu menjamin terciptanya muslim society. Hal ini, diamini oleh Abdullah Saeed, kepala Asian Studies di Melbourne Univ.
lalu bagaimana dengan kita di Indonesia? yang mana yang kita pilih, menjadi negara muslim atau masyarakat yang Islami?